Senin, 29 Juni 2009

Fenomena di Kendari

Kendari, Ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara menjadi tempat persinggahan pertama dalam menjalani tugas kedinasanku. Kendari, kota yang yang baru pertama kali mendapatkan anugerah sebagai kota yang bersih walaupun pada kenyataannya belum pantas mendapat predikat itu. Yah.. semoga dengan menyandang gelar adipura menjadi motivasi bagi warga Kendari untuk bisa menjaga kebersihan kota mereka.
Banyak hal unik disini, pada awalnya agak ngeri juga datang ke daerah timur Indonesia, isu konflik bermotif SARA, ditambah isu kerasnya kehidupan di timur bikin khawatir juga. Setiap berita yang muncul di TV selalu saja berita yang tidak enak, konflik, kekerasan, unjuk rasa. Namun semua itu ternyata hanya nampak dari luar aja. Setelah masuk ke kota Kendari ternyata gak ada yang seheboh seperti di berita televisi. Demo yang ada ternyata cuman demo segelintir manusia yang tampak besar ketika disort oleh kamera, demo layaknya demo masak yang adem ayem, tetapi jadi heboh karena saking pinternya reporter TV dalam memoles berita agar tampak heboh. Kenapa hanya yang jelek aja yang terekspose, sementara hal2 yang bagus jarang sekali terekspose. tentang indahnya Wakatobi, tentang kekayaan hasil laut atau tentang pembangunan yang sedang berjalan di Kendari. Rating yang berujung pada pemasukanlah yang menjadi alasan utama. Padahal jika dibandingkan dengan kota2 lain di Jawa, Kendari relatif aman. Untuk mendapatkan minuman keras di Kendari gak semudah seperti di Jawa, sebagai contoh Kota Surakarta, hampir di setiap malam banyak orang minum "CIU" (minuman alkohol khas Solo). Di Kendari kita mau jalan malam gak takut seperti kalo kita jalan malam di Jawa. Bahkan kebiasaan naruh motor di halaman sampe pagi masih sering di temukan di Kendari. Gak ada yang namanya maling. Namun gak semuanya bagus.. ada beberapa hal yang menurut saya gak bagus untuk dilanjutkan. Materialitas dan gengsi yang menjadi kebiasaan orang2 Kendari menjadi perusak keindahan yang ada di Kendari.